Kamis, 10 November 2011

UTS on Dilemma


Sunyi.
Di dalam ruangan itu aku berada. Duduk diam di baris ketiga dari depan. Menghadapi selembar kertas HVS dan folio.
Ah, hidup ini. Teramat damai untuk larut dalam pergulatan pemikiran yang abstrak.

Ehem.
Bukan dehaman. Hanya batuk keras yang membuyarkan sejuta lamunan tentang himpunan konveks.
Oh, haruskah? Aku sedang ingin bergumul.
Dehaman raksasa itu terdengar lagi. Seakan-akan menjawab sambil mencaci. 'Harus. Aku harus mengganggumu.'

Dongeng tentang daerah penyelesaian hilang sudah. Terganti dengan bayangan mengejek paling menyebalkan.

Batuk itu terus terdengar.
Oh, dunia. Bukankah neraka lebih buruk dari yang fana? Kenapa rasanya lebih buruk dari itu?

Seandainya aku tahu siapa pemilik batuk itu, seandainya aku terlalu mendendam pada suara tingkat rendah itu, dan seandainya dan seandainya lainnya.
Seandainya aku punya keberanian melempar sepatu yang kupakai hingga batuk itu berhenti.

Ah, sudahlah. Secarik HVS masih menungguku sementara folio seakan terbahak melihatku yang terlalu stres, mungkin.

Lama berselang, aku bersyukur ada yang bisa menyumpal suara itu.
Tapi,
tring tring tring
bunyi berulang tak berhingga.

Grrrr...
Neraka mana lagi yang datang berkunjung.

0 caci maki: